POPULERNEWS.ID,MAKASSAR- Waduk memiliki peran strategis. Selain menjadi tempat penampungan air untuk pengendali banjir dan irigasi, waduk juga berfungsi sebagai sumber air baku PLTA dan PDAM.
Mulfi fungsi waduk harus tetap terjaga. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam menjaga kelangsungan fungsi waduk.
Harapan ini disampaikan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Ditjen SDA Kementerian PUPR, Ir Adenan Rasyid saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator-Counterpart Kegiatan Community Partisipatory (CP) DOISP-II pada Waduk Bili-Bili, Kalola, Salomekko dan Ponre-Ponre di Hotel Gammara, Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, Selasa (16/11/2021).
“Berdasarkan hasil kajian Dam Operational Improvement and Safety Project
(DOISP) pada tahun 2018, diketahui bahwa sumber utama penyebab
terjadinya penurunan kinerja operasional waduk dan keamanan bendungan
adalah kurangnya kepedulian masyarakat yang tinggal di sekitarnya,” ujar Adenan
Kata dia, secara khusus permasalahan-permasalahan di sekitar waduk
adalah adanya sedimentasi yang semakin tinggi.
“Berdasarkan hasil kajian tersebut disimpulkan bahwa selain intervensi fisik dan peningkatan kapasitas institusional pengelola bendungan, penanganan
permasalahan penurunan kinerja operasional dan peningkatan keamanan
bendungan memerlukan upaya fisik dan non fisik yang melibatkan
masyarakat atau kelompok masyarakat, baik di sekitar waduk (greenbelt)
maupun pada daerah tangkapan air,” urainya.
Karena itu, Adenan berharap program DOISP-II yang pelaksanaannya mencakup 4 bendungan dapat mendorong dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berperan serta menjaga kelestarian lingkungan.
“Jadi ada kerjasama yang saling menguntungkan dalam program
pengelolaan sedimentasi dan keamanan waduk. Selain meningkatkan
peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian fungsi waduk dengan
penerapan pola pengelolaan sedimentasi yang berbasis partisipasi
masyarakat serta kaidah konservasi, juga bertujuan perbaikan ekonomi dan
peningkatan SDM masyarakat,” jelas Adenan
Bimtek ini dirangkaikan dengan penandatanganan MoU antara PIU dengan Kelompok Masyarakat (PokMas).
Penandatangan kerja sama itu dilakukan oleh PPK OP SDA III BBWSPJ, Asriani, panitia dan PokMas.
PPK OP SDA III BBWSPJ, Asriani dalam laporannya menyampaikan, penandatangan MoU ini sebagai tindak lanjut dari hasil verifikasi RKM antara PIU dan PokMas.
“Penandatanganan MoU ini menandai komitmen BBWSPJ dengan masyarakat melakukan penyelamatan dalam upaya peningkatan keamanan dan
fungsional pada waduk besar milik pemerintah,” ujar Asriani.
Adapun bimtek Fasilitator-Counterpart Kegiatan Community Partisipatory (CP) DOISP-II pada Waduk Bili-Bili, Kalola, Salomekko dan Ponre-Ponre diikuti oleh sekitar 62 orang.
Terdiri dari fasilitator, aparat desa/lurah, ketua FKDTA-FKW serta PokMas.
“Para peserta merupakan perwakilan masyarakat sekitar dari Waduk Bili-Bili, Kalola, Salomekko dan Ponre-Ponre,” jelasnya.
Sejumlah narasumber kompeten dihadirkan dalam bimtek yang berlangsung selama dua hari itu.
Antara lain, Direktorat Bina OP Ditjen SDA Kementerian PUPR, Ratna Lelasari Yuningsih dari CPMU, Beni B Raharja dari CPIU. Tak ketinggalan Prof Dorothea Agnes Rampisela dari CP DOISP-II serta Direktur Pusat Kajian Rekayasa SDA Universitas Hasanuddin, Dr Eng Hj Rita T Lopa.
Ketua Yayasan Peduli Lingkungan (YPL) Gowa, Rais Fatta yang ikut sebagai peserta merespon positif program DOISP-II.
“Skema kemitraan program ini sangat bagus. Dimana kita didorong ikut peduli dengan kelestarian fungsi waduk. Bentuk mitigasinya melalui penghijauan. Juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar waduk dan bendungan,” tandasnya. (rus)












