POPULERNEWS.ID, MAKASSAR – Sulawesi Selatan sebuah provinsi dengan dinamika politik yang kerap kali menjadi sorotan nasional.
Kini berada di persimpangan jalan dalam proses demokrasi. Ancaman dari kekuasaan yang terpusat pada segelintir elit menjadi nyata,”kata Pengamat Politik, Ibnu Hadjar Yusuf kepada wartawan, Minggu, 11 Agustus 2024.
Menurut dia, bisa saja mengancam kesehatan demokrasi yang seharusnya mengedepankan kompetisi dan partisipasi publik.
Kala itu, Data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan bahwa pada Pilkada 2018, meskipun partisipasi pemilih secara nasional meningkat lebih dari 70%, beberapa daerah, termasuk Sulawesi Selatan, terpengaruh oleh minimnya pilihan kandidat.
“Ketika hanya ada calon tunggal, kekecewaan menyelimuti pemilih yang merasa pilihannya terbatas, berujung pada apatisme atau protes melalui kotak kosong,”jelasnya.
Apalagi, Fenomena kotak kosong yang memenangkan Pilkada Makassar 2018 dengan sekitar 53% suara. Hal itu menjadi bukti nyata bahwa masyarakat resisten terhadap kandidat yang dianggap tidak mencerminkan aspirasinya.
“Kejadian ini menunjukkan ketidakpuasan pemilih terhadap pilihan politik yang tersedia dan memperingatkan akan bahaya demokrasi yang tersandera oleh elitisme,”tegas Akademisi ini. (**)












