Makassar, 31 Juli 2025 — Kota Makassar kini memasuki babak baru dalam penanggulangan bencana dengan peluncuran enam inovasi kebencanaan terbaru yang diinisiasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar.
Soft launching yang berlangsung di Hotel Vasaka Makassar ini menandai langkah strategis kota ini untuk menghadapi ancaman bencana dengan pendekatan yang tidak hanya teknis, tetapi juga humanis, inklusif, dan berbasis kearifan lokal.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Makassar menyatakan bahwa inovasi-inovasi ini dilahirkan dari kebutuhan nyata masyarakat, dan bertujuan membentuk budaya kesiapsiagaan yang lebih hidup di tengah warga. “Kami ingin Makassar menjadi kota yang siap menghadapi bencana dengan cara yang lebih bermakna, memadukan teknologi dan sentuhan hati,” ujarnya.
Enam inovasi yang diperkenalkan adalah SALAMA, MACCA, SILOKA, BALLA SALAMA, AGANGTA, dan PAKABAJI.
SALAMA memfokuskan edukasi kesiapsiagaan pada anak-anak melalui cerita dan metode hypnoshield yang memberikan rasa aman saat belajar menghadapi bencana.
MACCA merupakan sistem manajemen risiko yang mengandalkan data lokal dan kecerdasan komunitas, sejalan dengan arti kata “macca” yang berarti cerdas dalam Bahasa Bugis.
SILOKA menjadi tulang punggung distribusi logistik berbasis komunitas, memastikan bantuan dapat cepat dan tepat sasaran.
Selain itu, BALLA SALAMA menghadirkan posko tanggap darurat 24 jam di tiga kecamatan dengan fasilitas digital dan pelayanan langsung.
AGANGTA memberikan layanan pemulihan psikososial melalui seni dan hypno resilien, khusus untuk anak dan kelompok rentan.
Terakhir, PAKABAJI mendorong pemulihan pascabencana berbasis gotong royong, mengajak warga untuk saling mendukung dan membangun kembali kehidupan secara bersama-sama.
Soft launching ini dihadiri tokoh masyarakat dari 15 kecamatan, komunitas pendongeng, dan mitra kebencanaan. Uji coba inovasi akan dilakukan di tujuh kecamatan rawan bencana sebagai langkah awal implementasi.
Langkah ini mengukuhkan komitmen Makassar untuk tidak hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga memperkuat ketangguhan sosial dan kultural sebagai modal utama dalam mitigasi dan pemulihan bencana.(*)












